Rumah Nekat

72

4 tahun lalu saat masih ngontrak di bekasi dan langganan banjir (maaaf bukan mau membully bekasi ya hehehe), adikku dian bilang : ka, ada rumah baru jadi, ada plang mau dijual di joglo.

inget banget bulan ramadhan waktu itu, saya dan suami iseng liat rumah itu. kenapa saya bilang iseng? karnaaa jujuuurrr kami waktu itu nggak punya uang , saya belum ketemu oriflame hehehe.

Singkat cerita, kami pun janjian dengan bapak pemilik rumah berwarna abu abu minimalis 2 lantai itu. Waktu pertama suami tanya harganya, itu saya langsung melipir duduk diteras aja, mendengar harganya yang stengah M, huwaaa sereem saya dengernya karna dulu bokek berat hehehe. Sementara suami terus aja masuk ke dalam rumah, dan melihat lihat ke lantai 2 dengan PD nya.

Saya sampe ngambek nunggu di teras luar, ngapain sih bi lama banget, udah jelas jelas kita gak ada uang stengah M, ayo kita pulang skarang. hihihi sensi bener kalau bokek ya.

Tapi yang saya smakin gak mengerti, si abi malah bilang : “Bun, tunggu yah, bapaknya lagi nyuruh orang fotokopi sertifikat rumah ini. lagi diambil dirumahnya.”

Saya smakin gak ngerti, ya Allah suamikuuu nekat bener, kita nggak punya uang segituu , ini rumah kemahalan bii, kayaknya kita masih harus cari kontrakan lagi ( bokek ternyata membuat orang menjadi sangat pesimis hehehe).

Sore itu kami pulang ke rumah kontrakan di bekasi yang udah abis masa kontrak 1 tahunnya. Dan ternyata suami saya jatuh cinta sama rumah itu, meski bukan dalam komplek rumah dian, tapi lingkungan sekitarnya in syaa Allah baik, apalagi ada 3 masjid dekat skali, tetanggaan sama rumah pak haji yang mana stiap sore ada pengajian anak anak. dan yang paling penting, deketan rumah dian dan tantenya ibuk , masih 1 RW, ini yang membuat ayah ibuk pun setuju banget deketan.

Terus terang saya nggak habis pikir dengan kenekatan suami yang membuat janji sama bapak pemilik rumah. Suatu malam sehabis tarawih, suami mengajak saya untuk janjian dengan bapak itu untuk tawar menawar harga rumah.
Jujur saya orang sumatra kan biasanya to the point, nah ini udah mau sejam suami malah ngobrol kesana kemari. Saya udah kasih kode, ayo bi tawarr udah malem ini, cuma dia senyum aja.

Rumah ini dari harga 500 juta, alhamdulillah hasil lobi suami (saya akui dia jago banget), si bapak pemilik rumah akhirnya deal akan melepas rumahnya menjadi 430 juta ke suami. padahal menurut orang sekitar, sudah 2 bulan ini banyak yang menawar , si bapak pemilik rumah tidak mau bergeser dari angka 500 juta. Bayangkan, suami langsung kasih uang tanda jadi 1,5 JUTA doang hihihi, duh beneran kalau bukan Allah yang memudahkan, dan menggerakkan hati bapak itu melepas rumahnya ke kami.

Di perjalanan pulang ke bekasi, antara senang dan takut, saya tanya ke suami , bi darimana kita dapet uang DP nya ? butuh 100 jutaan lho bi, tabungan kita gak sampe segitu bi. Dengan yakin dia berkata : in syaa Allah ADA rejeki dari Allah bun, yakin ini bulan ramadhan, kita banyakin sedekah dan berdoa bun.

saya smakin pesimis, ya Allah ini suami, kalau kami nggak ada DP rumah itu, itu uang tanda jadi kita 1,5 Juta melayang, jaman itu 1,5 juta bernilai banget hehehe.

2-3 hari sejak kasih tanda jadi itu, keajaiban itu datang, rejeki itu datang tanpa kami duga duga lewat keluarga, alhamdulillah suami langsung mengurus surat surat KPR di suatu bank syariah, alhamdulillah smua prosessnya lancar, dan akhirnya kami pun pindah ke joglo, mengakhiri status ‘kontraktor’ slama 5 tahun sejak menikah.

Suatu malam, yang bikin saya berkaca kaca saat suami memperlihatkan buku agenda lusuhnya. ya saya ingat, buku itu sudah ada sejak kami pertama menikah, dimana dia hari hari pertama menikah sudah mengajak saya bikin planning 1-5 tahun mendatang. yang manaa saya iya iyain aja hihihi, karna saya ini orangnya gampangan, sedangkan dia mikirnya jauh kedepan. (kita memang berjodoh ya bi)

di salah satu halaman itu tertulis : memiliki rumah tahun 2010.

Ya Allah, impian itu terwujud, dengan segala keajaiban yang Allah berikan.

alhamdulillah, pindah ke Joglo membuka jalan rejeki juga bagi kami, karna saya akhirnya bertemu dengan bisnis dbcn oriflame. satu persatu impian yang ada di dream books nya (ya karna dulu saya bermimpi pun nggak berani hehehe), mulai terwujud satu persatu. dan sejak berbisnis ini mind set, mental dan keberanian saya ditempa.
Saya bukan lagi istri ‘pemadam kebakaran’ yang memadamkan impian suaminya, tapi skrg malah saya yang menjadi pembakar impian orang orang ditim saya.

Alhamdulillah ya Allah, smoga kami menjadi hamba yang slalu bersyukur , yg tidak terlena dgn kenikmatan, sehingga bisa memanfaatkan hidup ini utk mengumpulkan bekal kembali. aamiin

smoga bermanfaat sekelumit cerita suami nekat eh rumah nekat dari saya pagi ini , doakan bisa punya rumah yg lebih luas lagi yaa aamiin

anak muda,
menikahlah sebelum mapan
agar anak anak anda dibesarkan bersama kesulitan kesulitan anda
agar anda dan anak anak anda kenyang merasakan betapa AJAIBNYA kekuasaan Allah..(adriano rusfi)

(foto rumah 4 tahun lalu masih polos karna masih naik motor dan metromini kemana mana, alhamdulillah 2 tahun berikutnya dipasang kanopi karna saya mendpt mobil gratis dari Allah lewat bisnis oriflame alhamdulillah)

- Eka Satriana -

10.000 Jam

10,000 JAM

Waktu mengikuti Indonesia Growth Summit 2012 di Bali, Pak Magnus Branstrom pernah bercerita mengenai buku Outliers nya Malcolm Gladwell. Dalam salah satu bab di buku itu menjelaskan bahwa setiap sebuah keahlian/pakar akan mencapai puncaknya setelah melalui proses jam terbang minimal 10.000 jam.

Bill gates, The Beatles dll adalah mereka yang sudah melewati 10.000 jam itu sehingga mereka sukses di bidangnya masing masing.

Nah saya jadi tergelitik untuk mencoba melakukan survey kecil kecilan kemarin adakah korelasi teori 10.000 jam ini dengan faktor kesuksesan seseorang di bisnis oriflame khususnya. Tentu saja hasil survey saya ini tidak ilmiah karna saya tidak menggunakan rumus atau sample yang akurat. Tapiii cukuplah memberi gambaran yang bermanfaat untuk saya, kita semua.

Saya mencoba mensurvey beberapa orang diamond up nya Oriflame. Mengapa Diamond? karena saya pikir menjadi seorang diamond sudah bisa menjadi indikasi kesuksesan seorang independent konsultan, meski kesuksesan dalam konteks luas bukan melulu soal materi yang telah dicapai. Tapi dalam success plan oriflame menjadi seorang diamond adalah impian smua orang yang memulai bisnis ini.

Bagaimana hasil survey kecil kecilan saya kemarin?
sangaaaat menarik, berikut hasil survey saya :

(1) Beberapa orang diamonds up yang saya survey, mereka yang menghabiskan waktu 6 JAM/hari untuk bisnis, meraih level diamond dalam waktu kurang lebih 3 TAHUN.

(2) Mereka yang menghabiskan waktu 8-10 jam/hari mengurus bisnisnya, meraih level diamond dalam waktu kurang lebih 2 TAHUN.

(3) Mereka yang menghabiskan waktu 12 jam/hari mengurus bisnisnya, meraih level diamond dalam waktu 1-2 tahun dan sudah meraih level executive up.

(catatan : jumlah jam diatas itu waktu total perhari, yang namanya ibu rumah tangga tentu kadang disambi sambi, sambil nunggu anak skolah, sambil nyuci, dll hehehe jadi tidak mutlak duduk depan laptop berjam jam, sangat fleksible)

Nahh, dari mini survey ini, saya menyimpulkan bahwa :

Semakin banyak investasi waktu (saya menggunakan kata investasi untuk waktu), maka akan semakin cepat dia meraih level/tittle dalam Success Plan.

Mari kita berhitung :

(1) 6 jam/hari, kita anggap saja stiap hari meski realitanya tidak stiap hari ya, maka dalam 1 tahun dia sudah menghabiskan 2.190 Jam. jika untuk meraih diamond butuh 10.000 jam, maka membutuhkan waktu 4,5 tahun.

(2) 10 jam/hari, kita anggap saja stiap hari meski realitanya tidak stiap hari ya, maka dalam 1 tahun dia sudah menghabiskan 3.650 Jam. jika untuk meraih diamond butuh 10.000 jam, maka membutuhkan waktu 2,7 tahun.

(3) 12 jam/hari, kita anggap saja stiap hari meski realitanya tidak stiap hari ya, maka dalam 1 tahun dia sudah menghabiskan 4.380 Jam. jika untuk meraih diamond butuh 10.000 jam, maka membutuhkan waktu 2,2 tahun.

Nah, jika kita liat data dari mini survey saya pada beberapa diamonds up, ada yang bisa meraih lebih CEPAT dari waktu estimasi. Nah menurut saya inilah yang dinamakan PERCEPATAN REJEKI dengan JURUS LANGIT.
Membuat sesuatu yang impossible menjadi possible.

Teori 10.000 jam ini juga bisa menjawab pertanyaan pertanyaan banyak teman teman, kenapa kita belum bisa meraih level diamond? mari kita bertanya pada diri kita sendiri..

Kalau sehari hanya 1 jam sehari mengurus bisnis, maka setahun 365 jam. untuk meraih 10.000 jam, artinya butuh 27 TAHUN hihihi. kapan nyampe diamondnya ya hehehe.

Skarang, jika teman teman ingin menjadi seorang diamond 3 tahun atau 2 tahun lagi, teman teman sudah mulai bisa meng alokasikan waktu berapa jam sehari kita harus fokus mengurus bisnis ini.

======================================

Skali lagi, ini hanya mini survey yang saya tanyakan langsung dengan sekitar 10 orang diamonds up kemarin yaa, jadi mohon maaf memang tidak ilmiah hehehe.

Trima kasih untuk para diamonds up yang sudah mau sharing kemarin saya tanya tanya, smoga lancar terus sampe President, aamiin.

Joglo, 30 Oct 2014
Eka Satriana

“Barokahnya sebuah KEJUJURAN”

BERANI JUJUR copy

Hari ini adalah hari ketiga supir saya yang kebetulan masih family, ijin pulang kampung ke muara enim, karena bapaknya (adik kakekku) kena serangan stroke. Karena ada keperluan ke Sudirman, ya sudah pasti pulangnya saya akan naik taksi.

Saya ini orangnya memang tipe pengomong, suka aja ajak ngobrol supir taksi yang biasanya punya cerita menarik dalam kehidupannya, seperti cerita Kang Ridwan supir taksi Bl*e B**d dengan nomor pintu RXP 473 siang ini.

Beliau berasal dari Limbangan, Garut, mengadu nasib ke Jakarta menjadi seorang supir taksi, obrolan pun berlangsung, saya tanya, berapa kang kira kira penghasilan bersih sebulan? Beliau bilang kalau idealnya mah 4 juta bisa dapet bu, tapi kalau lagi sepi kayak kemarin cuma kadang cuma dapet dikit. Ya nggak tentulah bu katanya.

Di tempatnya bekerja ada juga bonus/komisi, kalau misalnya sebulan bisa tercapai 14 juta, itu komisi bonusnya 1,5 juta. Tapi blm pernah tercapai katanya karena sebulan hanya 20 hari kerja efektif, artinya dia harus dapet 700 ribu/hari, dan itu jarang terjadi.

Itu obrolan standard, yang menarik adalah saat saya tanya, Kang ridwan sama istri dan anak ngontrak dimana? Nah, barulah beliau cerita, kalau dia tidak tinggal di kontrakan tetapi di gudang, bangunannya besar seperti gabungan beberapa ruko, luas. Saya bingung, itu gudang siapa kang?

Dan mengalirlah cerita dari kang Ridwan, semua bermula dari suatu kejadian, suatu hari dia bawa penumpang, setelah penumpang itu turun dan taksi yang dibawanya sudah pergi, dia baru sadar kalau ada tas kecil penumpang tadi ketinggalan dikursi belakang.

Karena dia harus bawa penumpang lagi, dia simpanlah tas kecil hitam itu, niatnya malamnya setelah selasai, baru dia akan ke rumah yang punya tas untuk mengembalikan tas tadi.

Malamnya dia datangi lagi rumah penumpang tadi untuk mengantarkan tas, si pemilik tas begitu terkejut, karena tidak pernah menyangka kalau tas itu akan dikembalikan. Karena penumpang tadi mau melapor ke perusahaan takis dia sama skali tidak ingat nomor pintu taksi yang ditumpanginya dan memilih pasrah tas beserta isinya hilang.

Kata kang ridwan, siangnya saat dia cerita ke temannya sesama supir taksi, banyaklah yg menyarankan, udah ambil aja Wan tas itu beserta isinya, pulang ke kampung bangun rumah, nggak usah dibalikin.

Tetapi kang ridwan menyadari betul kalau tas beserta isinya itu BUKAN hak nya, dan dia memilih untuk mengembalikan ke pemiliknya.

Mau tau apa isi tas hitam kecil itu ?
1 buah handphone canggih,
berkas berkas dokumen, dan
42 lembar uang 100 dollar (kalau kurs 1 dollar = 11 ribu berarti sekitar 46 juta ya),
totally 54 jutaan plus berkas berkas penting.

Si penumpang yang ternyata pasangan suami istri keturunan tionghoa ini adalah pengusaha kaya, rumahnya di daerah pluit rumah mewah, punya bisnis banyak, salah satu bisnis istrinya punya gudang di daerah Daan Mogot. Kalau malem ada sekitar 10 mobil bisnisnya disimpan disitu, beserta gudang dan isinya.

Menurut Bapak itu, slama ini ada pegawai yang jaga gudang tetapi tidak pernah jujur, jadilah kang ridwan , istri dan anaknya ditawarin untuk tinggal di gudang itu, nyaman, bahkan ada AC nya kamar mereka.
Alhamdulillah mereka jadi tidak perlu keluar uang untuk sewa kontrakan. Slain itu sembako bulanan juga dikasih, dan istrinya juga dikasih uang 2 juta/bulan.

Suami istri pengusaha itu menawarkan kang ridwan untuk menjadi supir pribadi istrinya, tapi entahlah kang ridwan ini masih nyaman jadi supir taksi, katanya dia nggak mau aji mumpung.

Setelah berbulan bulan mereka tinggal menjaga gudang ruko , pengusaha tadi memanggilnya, dia bilang : “Ridwan, saya ini agamanya beda dengan kamu, tapi saya tau kalau orang islam itu wajib naik haji, iya kan?”

Si kang ridwan nya menjawab dengan malu : “iyaa pak, wajib bagi yang sudah mampu, tapi sayah mah belum mampu.”

Lalu, bapak tadi bilang : “saya mau memberangkat haji kamu dan istrimu, gimana?”

Antara senang, terkejut campur aduk, si kang ridwan minta waktu untuk bicara dengan istrinya. Dan mereka berdua sepakat, kalau hadiah haji itu untuk orang tua istrinya saja dari Garut , karena mereka sudah tua, dan punya impian naik haji sejak lama.

Begitu niat itu disampaikan ke bapak pengusaha tadi, Sungguh diluar dugaaan kang ridwan dan istrinya, karena bapak pengusaha yang baik itu bukannya membiayai haji orang tua istri kang ridwan saja melainkan kedua orang tua kang ridwan juga, total 4 orang dibiayai untuk berangkat haji, in syaa Allah skarang lagi menunggu keberangkatan 2-3 tahun lagi., sudah didaftarkan oleh pengusaha tadi. Alhamdulillah…

Allahu Akbar….
Saya sampe terharu mendengar cerita kang ridwan dengan logat sundanya yang khas ini. Betapa barokahnya sebuah kejujuran, Allah membalas lebih dari nilai barang yang dia kembalikan. Hatur nuhun Kang Ridwan smoga menjadi motivasi untuk kami semua untuk menjadi orang yang senantiasa jujur,baik dalam ucapan , hati maupun tindakan. Aamiin.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan surat At Taubah ayat 119.
Beliau mengatakan, “Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap JUJUR. Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Moga-moga kalian mendapati kelapangan dan jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.”
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 7/313

Wallahu Alam bish showab,
Joglo, 28 Maret 2014
EKA SATRIANA

(semua saya tulis berdasarkan obrolan saya dengan kang ridwan sang sopir taksi biru, saya sendiri belum tau apa hukumnya berhaji dibiayai oleh orang lain non muslim, saya hanya memaparkan saja ya kisah beliau, semoga tidak ada yang berpolemik atas tulisan ini, nuhun )

“Jangan meremehkan sebuah kebaikan”

Joglo, 17 Agustus 2014

Ada pemandangan berbeda saat makan pecel lele berdua suami di sebuah warung tenda di daerah cileduk kemarin malam. biasanya pengamen yang nyanyi adalah anak muda , tapi malam tadi yang mengamen adalah seorang lelaki berperawakan tinggi kurus, memakai kaos biasa dan membawa gitar selayaknya pengamen, meski rambutnya sedikit gondrong tapi rapih, uniknya dia memakai peci hitam.

si bapak, sebelum mengamen, memperkenalkan diri ke smua pengunjung pecel lele, bahwa mereka adalah keluarga seniman , disampingnya berdiri seorang wanita berkerudung, yg adalah istri tercintanya yang lagi menggendong bayinya dengan gendongan bayi.

Suara mereka berdua cukup merdu, tapi kemerduan itu justru membuat pikiran saya berkecamuk. Ya Allah, malam hari begini mereka mengamen membawa anaknya, mungkinkah karena memang sangat membutuhkan uang untuk makan malam ini..saya yakin kalau saja mereka punya orang tua pasti akan menitipkan anaknya , karna saya pandangi wajah keduanya adalah wajah orang baik baik..

Dalam hati saya terharu, betapa orang tua akan melakukan apapun demi anaknya, tidak ada gengsi/malu meskipun harus menjual suara mengamen demi mengumpulkan rupiah demi rupiah halal di warung warung makan. Dan saya sunggu tidak tau kenapa mereka berdua mengamen malam ini membawa anaknya. apakah mereka membutuhkan uang untuk membeli obat anaknya? belum makankah mereka? saya hanya bisa bertanya dalam hati, hiks.

Sang anak sepertinya berusia sekitar 1 tahun tidur dengan nyenyaknya dipelukan ibunya, celana panjang, kaus kaki, jaket, topi kupluk melindungi si anak dari dinginnya angin malam.

kedua suami istri tadi menyanyi dua lagu, stelah itu sang suami menghampiri para pengunjung warung pecel lele dengan menyodorkan kantong putih kecil mengharapkan rejeki dari pengunjung yang baik hati.

saya kebetulan lagi dimeja penjual pecel lele untuk membayar , sementara suami saya sudah berjalan ke parkiran motor, dan mas pengamen tadi tidak ke arah saya. stelah selesai membayar, saya berjalan ke warung tenda sebelah lagi mau membeli roti bakar. dan alhamdulillah saya ketemu pasangan suami istri pengamen tadi, ternyata mereka naik motor. saya menjadi smakin menduga sepertinya mereka memang kepepet butuh uang untuk mengamen malam ini, sampai membawa sikecil.

Saya percepat langkah saya lalu saya hampiri, dan menyelipkan uang ke istrinya sambil bilang : ada sedikit rejeki untuk anaknya ya mb. Saya melihat matanya berkaca kaca sambil mengucap terima kasih berkali kali. lalu si mas pengamen (suaminya) mengatakan dengan fasih : “Jazakillah khairan katsira, smoga barokah rejeki mb, smoga makin banyak rejeki ya mb”

Aamiin ya Rabb..begitu tulus doa itu saya dengar..saya teringat pesan Ibnul Qoyyim ini yg membuat saya meleleh kalau membacanya…

trima kasih ya Allah pelajaran bersyukur malam ini Engkau berikan lewat pasangan pengamen tadi…bahwa kami harus lebih peduli dengan orang lain disekitar kami…harus banyak bersyukur bahwa Engkau telah memberikan kami kemudahan dalam menjemput rejeki dan kecukupan, maka ampunilah kami jika kami kurang atau bahkan lupa mensyukuri nikmat-Mu slama ini…

wallahu alam bish showab.

(mohon maaf skali, tulisan ini saya share tidak ada maksud untuk riya, hanya ingin berbagi hikmah saja ya sobat FB, smoga bermanfaat…)

kebaikan

Slamat jalan Pak Asep

Namanya Pak Asep…
usianya sekitar 43 tahun, saya mengenal beliau karna beliau suka main ke rumah mencari suami saya.

Sudah 4 tahun ini beliau tidak memiliki pekerjaan , karena sejak terserang stroke fisiknya sudah tidak seperti dulu lagi. Meskipun beliau bisa berjalan semampunya tapi sebelah tangannya masih kaku , mati sebelah istilah orang kebanyakan.

Saya pernah diajak suami silaturahim ke rumahnya, terakhir bulan lalu. Kontrakan sederhana sempit itu, beliau tinggali dengan istri dan dua anaknya yang berusia sekitar 13 tahun dan 11 tahun.

Tak ada kursi, hanya karpet sbagai alas duduk diruang tamu. Saat itu saya dan suami beserta beliau dan istrinya bercerita ringan, sambil memberi sedikit rejeki untuk mereka. Di dinding ruang tamu, masih ada foto berukuran besar foto bernikahan beliau dahulu, membayangkan bagaimana sosok beliau yg gagah, tampan dengan pekerjaaan mapan dengan istri yg cantik juga.

Pak Asep memang sering menemui suami , mungkin butuh seseorang untuk tempat dia mencurahkah segala beban dihatinya. Beliau pernah bercerita bagaimana dulu sebelum stroke bekerja di perusahaan swasta dengan penghasilan besar, sudah memiliki rumah sendiri, sudah memiliki mobil, sudah menghajikan ibunya, benar benar kehidupan yg mapan.

Istrinya pun yg tadinya bekerja di sebuah bank, resign menjadi ibu rumah tangga saja, karena sepertinya secara penghasilan Pak Asep sudah sangat mencukupi mereka kala itu.

Pak Asep bercerita, kasian ke anak istrinya saat ini, karena sejak dia stroke, dan berhenti bekerja, satu persatu asset pun terjual, hingga tak tersisa, baik untuk biaya pengobatan maupun untuk biaya hidup sehari hari. dan skarang hanya mampu mengontrak bedeng kecil itupun sering menunggak.

Beliau sering curhat ke suami, yang jadi pikirannya adalah masa depan kedua buah hatinya itu bagaimana kedepannya. Anak pertamanya yg laki laki kebetulan juga menjadi salah satu anak asuh, yg stiap pekan dibina oleh suami.

Malam minggu kemarin pengajian remaja dirumah kami, anaknya tidak hadir, teman temannya hanya bilang Pak Asepnya sakit. Kami hanya mengira mungkin pak asep sakit biasa, karna subuh paginya beliau masih mampir ke rumah, seperti biasa memanggil nama suami dari luar pagar dan nampak sehat sehat saja.

Minggu subuh, hp suami berbunyi, memberi kabar bahwa Pak Asep sudah menghadap Allah jam stengah 4 subuh tadi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kaget skali rasanya, suami segera ke rumah almarhum, karena sangat khawatir apa penyebab meninggalnya beliau.

Subuh terakhir saat beliau kerumah, mungkin sudah tanda tanda mau ‘pamit’ beliau Nampak sedih, dan mengungkapkan sesuatu yg membuat suami agak terkejut. Beliau bilang : “pak irvan, apa saya berpisah saja sama istri, kasian dia menderita dengan saya dengan kondisi saya tidak bisa menafkahi lagi sudah lama begini…”.

Ternyata sorenya beliau mendadak kejang kejang, karena tak ada uang, tidak ada upaya dibawa ke rumah sakit atau ke dokter, hanya ditunggui diruang tamu sambil istri, klrganya mengaji. Hingga malaikat izroil pun menjemputnya ahad subuh kemarin.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa aafiihii wa fuanhu, aamiin.

Pak Asep, maafkan kalau kami slama ini belum maksimal membantu, smoga tenang di sisi Allah, aamiin ya Robbal ‘alamiin…

Pagi sabtu kemarin sebelum berangkat ke bandung, saya takziah, jenazah pak asep sudah terbujur kaku ditutupi kain ditengah ruang tamu, Istri beliau dan anaknya yg perempuan duduk disamping jenazah almarhum.
Saya peluk erat istrinya dan membisikkan doa smoga beliau kuat dgn takdir Allah ini, kuat untuk menjadi single parent bagi kedua anaknya.

Ya, kita para istri tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan.
Kita tidak pernah tau apakah suami kita akan sehat terus sehingga bisa mencari nafkah utk kita..
Kita tidak pernah tau apakah perusahaan tempat suami kita bekerja tidak akan bangkrut atau mem PHK karyawannya..
dan terutama kita tidak pernah tau usia suami kita….

Ya semua rahasia Allah, karena itulah tidak ada salahnya jika kita para istri mempersiapkan diri menjadi istri/ibu yang kuat, yg mandiri finansial, agar kita tetap bisa melanjutkan amanah suami memberikan masa depan terbaik untuk anak anak kita kelak jika suami pergi mendahului kita…

Tugas utama kita tetaplah menjadi seorang ibu/istri dengan segala kewajibannya, kalaupun kita juga bisa mandiri finansial, itu bukanlah untuk menggantikan posisi suami mencari nafkah skarang , bukan.

Percayalah, jika seorang istri memiliki penghasilan sendiri , banyak hal yg bisa dia lakukan, dia bisa mencukupi kedua orang tuanya yg memasuki usia senja, dia bisa bersedekah atau membiayai anak asuh, dan hal bermanfaat lainnya. Smoga kisah ini pak Asep ini bisa membukakan mata kita bahwa menjadi istri yg mandiri finansial itu penting, tanpa kita harus meninggalkan kewajiban kita sbagai istri/ibu.

hatur nuhun untuk suamiku atas restu dan ridhonya mengijinkan saya sbagai istrinya produktif serta menjemput rejeki dari rumah…

Wallahu alam bish showab,

Joglo
8 Sept 2014

mandiri finansial